Daftar PENYAKIT AUTOIMUN
1. Systemic lupus erytematosus (SLE)
(kronis)
2. Antiphospholipid syndrome (APS)
3. Addison
4. Seliaka
5. Hepatitis Autoimun
6. Alopecia areata
7. Ankylosing Spondylitis
8. Myasthenia Gravis
9. Systemic Sclerosis
10. Rheumatoid Arthritis
1. Systemic
lupus erytematosus
(SLE)
SLE
merupakan penyakit radang atau inflamasi multisistem yang disebabkan
oleh banyak faktor (Isenberg and Horsfall,1998) dan dikarakterisasi oleh adanya
gangguan disregulasi sistem imun berupa peningkatan sistem
imun dan produksi
autoantibodi yang
berlebihan (Albar, 2003).
Terbentuknya
autoantibodi terhadap dsDNA, berbagai macam ribonukleoprotein intraseluler,
sel-sel darah, dan fosfolipid dapat menyebabkan kerusakan jaringan (Albar,
2003) melalui mekanisme pengaktivan komplemen (Epstein, 1998).
Hal
ini direspon sebagai benda asing oleh tubuh sehingga tubuh membentuk kompleks
antibodi antinuklear (ANA) untuk menyerang benda asing tersebut
(Herfindal et al., 2000). Makanan seperti wijen (alfafa sprouts)
yang mengandung asam amino L-cannavine dapat mengurangi respon
dari sel limfosit T dan B sehingga dapat menyebabkan SLE (Delafuente, 2002).
Selain itu infeksi virus dan bakteri juga menyebabkan perubahan pada sistem
imun dengan mekanisme menyebabkan peningkatan antibodi antiviral sehingga
mengaktivasi sel B limfosit nonspesifik yang akan memicu terjadinya
SLE (Herfindal et al., 2000).
Klasifikasi
Penyakit
Lupus dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu discoid lupus, systemic
lupus erythematosus, dan lupus yang diinduksi oleh obat.
Discoid
Lupus
Lupus
yang disebabkan oleh induksi obat tertentu khususnya pada asetilator lambat
yang mempunyai gen HLA DR-4 menyebabkan asetilasi obat menjadi lambat, obat
banyak terakumulasi di tubuh sehingga memberikan kesempatan obat
untuk
berikatan dengan protein tubuh. Hal ini direspon sebagai benda
asing
oleh tubuh sehingga tubuh membentuk kompleks antibodi antinuklear (ANA) untuk
menyerang benda asing tersebut (Herfindal et al., 2000).
2.
ANTIPHOSPHOLIPID
SYNDROME (APS)
Adalah suatu keadaan
autoimun yang ditandai dengan produksi antibodi antiphospholipid dalam
kadar sedang sampai tinggi dan dengan gambaran klinis tertentu seperti
trombosis (vena maupun arteri termasuk stroke), trombositopenia autoimun dan
abortus. Kemungkinan terjadinya APS lebih sering pada penderita dengan penyakit
autoimun seperti SLE disebut APS sekunder, namun dapat pula terjadi pada wanita
yang tidak mempunyai penyakit autoimun (APS primer).
Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium APS masih sulit dan membingungkan, kendalanya karena
hanya sedikit laboratorium yang dapat melakukan pemeriksaan dengan kualitas
yang baik. Pemeriksaan antibodi antiphospholipid dan lupus anticoagulant (LA)
harus dilakukan bersama berhubung karena hanya 20% penderita APS yang
dengan lupus anticoagulant positif. Pada tahun 1987 telah dibuat kesepakatan
pada International Anti-Cardiolipin Workshop mengenai interpretasi hasil
pemeriksaan laboratorium yang dilaporkan secara semikuantitatif dan dibagi
menjadi, negatif, positif rendah, positif sedang dan positif tinggi.
Pemeriksaan yang dilakukan adalah IgG aCL, IgM aCL dan IgA aCL. Mayoritas
penderita APS mempunyai LA dan IgG aCL.
Beberapa peneliti
memperkirakan bahwa LA dan aCL merupakan immunoglobulin yang sama yang
dideteksi dengan metode pemeriksaan yang berbeda sebab mereka menemukan bahwa
pada penderita APS ditemukan salah satu dari LA atau aCL namun tidak pernah
menemukan keduanya bersamaan.
Pemeriksaan lain
yang ditawarkan saat ini adalah b2-glycoprotein I (b2-GPI) yang relevan dengan antigen aPL. Banyak
peneliti saat ini meyakini bahwa aPL bekerja melawan glycoprotein ini atau
lebih mungkin terhadap glycoprotein ini dan phospholipid, namun belum ada
bukti bahwa pemeriksaan ini mempunyai informasi diagnostik yang lebih baik dari
pemeriksaan LA dan aCL.
Penanganan
Terapi APS
ditujukan mencegah pembentukan thrombus, untuk menghindari komplikasi lebih
lanjut. Pada wanita hamil, pemberian warfarin harus mempertimbangkan risiko dan
manfaatnya.
Pasien
dengan antiphospholipid syndrome (APS) dapat dilakukan evaluasi
dengan rawat jalan. Rawat inap diperlukan jika kondisi pasien sangat buruk,
misalnya mengalami catastrophic APS. Pasien dengan CAPS perlu mendapat
observasi dan pengobatan secara intensif, dan sering kali harus masuk intensive
care unit (ICU). Umumnya, regimen pengobatan untuk APS harus dibuat
secara individual, berdasarkan status klinis pasien dan riwayat kejadian
thrombosis. Pasien asimtomatis dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif,
tidak perlu pengobatan khusus.
Antikoagulan
Tujuan
pengelolaan pasien APS dengan aPL positif adalah profilaksis primer, mencegah
thrombus akut dan pencegahan sekunder pembentukan bekuan darah lebih jauh.
Pasien umumnya mengalami thrombosis sebagai gejala awal APS, dan pengobatan
thrombosis pada pasien-pasien ini sama dengan pengobatan thrombosis umumnya.
Terdiri dari terapi farmakologis dan meminimalisasi faktor risiko, seperti
imobilisasi, merokok, penggunaan pil kontrasepsi dan sebagainya.
Pasien
dengan thrombosis vena, awalnya diobati dengan heparin (sebagian besar dengan low
molecular-weight heparin) diikuti dengan coumadin. Penelitian
retrospektif melaporkan bahwa kekambuhan thrombosis tinggi, berkisar dari 22 -
69%, dan lebih dari 70% pada pasien dengan thrombosis vena dan 90% kemungkinan
bekuan darah di arteri muncul kembali. Jika bekuan darah ada di pembuluh darah
arteri, pasien dapat mengalami stroke dan transient ischemic attacks.
Karena
itu, pasien perlu mendapat antikoagulasi jangka panjang. Namun, durasi dan
intensitas pemberian terapi ini masih dipertanyakan. Penelitian-penelitian yang
membandingkan antikoagulan dengan intensitas moderat (international normalized
ratio [INR] 2–3) dan intensitas tinggi (INR 3–4), menghasilkan perlindungan
terhadap pembentukan bekuan darah yang serupa.
Pada
thrombosis vena, target INR antara 2 dan 3, sedangkan pada thrombosis arteri
targetnya adalah 3. Jika pasien mengalami thrombosis berulang, INR harus
ditingkatkan menjadi 3–4, dan aspirin dosis rendah 81 sering ditambahkan.
Risiko perdarahan harus diperhatikan. Berdasar penelitian prospektif di Italia,
angka perdarahan yang dapat mengancam jiwa pada pasien yang menggunakan
warfarin adalah 0,25% setiap tahunnya, meningkat secara bertahap ketika INR
melebihi 4.
Namun,
risiko perdarahan tidak lebih besar pada pasien APS yang menggunakan antikoagulan,
dibanding penyakit lain. Kenyataannya, Ruiz-Irastorza dan kawan-kawan
memperlihatkan bahwa jarang terjadi perdarahan serius, ketika menggunakan
antikoagulan intesitas tinggi dengan target INR sebesar 3,5. Keterbatasan
penelitian ini, populasi pasien yang dilibatkan berusia muda dengan APS primer
atau terkait SLE. Sementara jika melibatkan pasien berusia lanjut, risiko
perdarahan lebih besar.
Dikenal
dengan baik bahwa beberapa pasien bisa mengalami gejala sub klinis, bahkan
tanpa gejala dan dapat memiliki risiko thrombosis tahunan 0-3,8%. Pasien-pasien
ini berisiko tinggi mengalami pembekuan darah, karena memiliki faktor-faktor
protrombotik, yang meliputi merokok, menggunakan pil kontrasepsi mengandung
estrogen, menjalani operasi dalam 3 bulan terakhir, imobilitas dan menggunakan
obat, seperti kokain. Sebab itu, dianjurkan untuk meminimalkan faktor-faktor
risiko ini. Terapi profilaksis dengan antikoagulan harus dipertimbangkan, saat
berada dalam risiko tinggi.
Erkan dan
kawan-kawan membandingkan aspirin dengan placebo, untuk pencegahan primer pada
APS dan tidak menemukan perbedaan dalam kejadian thrombosis. Sebab itu, risiko
yang dimiliki pasien harus distratifikasi berdasarkan faktor risiko
kardiovakular dan non kardiovaskular, sebelum memberikan aspirin.
Yang
terakhir, pasien dapat mengalami oklusi pada berbagai pembuluh darah dalam
waktu pendek, ketika titer antibodi aPL tinggi (CAPS). Sekitar 250 kasus CAPS
dilaporkan dalam berbagai publikasi. Pada tahun 2000, suatu registri
internasional di Eropa dibuat. Kasus CAPS sebanyak 1% dari semua kasus APS, dan
pasien harus memenuhi kriteria diagnostik sebagai berikut:
- Mengalami
keterlibatan tiga atau lebih organ
- Mengalami
manifestasi dalam 1 ming- gu atau kurang
- Dikonfirmasikan
secara histopatologi adanya oklusi pembuluh darah kecil, pada setidaknya
satu organ
- Hasil
laboratorium mengonfirmasi adanya aPL (LAC atau aCL)
Wanita
lebih mudah mengalami CAPS daripada pria (rasio 2,5:1), dan pasien biasanya
mengalami kejadian thrombosis yang sering mendahului terjadinya oklusi
multiple. Secara klinis, pasien mengalami gangguan multiorgan dan ginjal (70%
pasien dalam registry CAPS), Paru (65%), sistim saraf pusat (55%), jantung
(50%) dan saluran cerna (44%). Trombositopenia dilaporkan pada 46% pasien CAPS,
LAC dan aCL ditemukan pada 79 dan 86%, secara berurutan, dan antibody
antinuklir positif pada 48% kasus. Angka mortalitas cukup tinggi pada pasien
CAPS, dan terjadi pada 47% pasien, di mana kejadian jantung mendominasi.
Beberapa
mekanisme patogenik terlibat dalam CAPS, dan sel endotel dilaporkan terlibat di
dalam patogenesisnya. Diyakini bahwa sitokin, produk pelengkat teraktifasi dan
otoantibodi berinteraksi dengan sel endotel dan meng-up regulasi prokoagulasi
dan kelekatan endotel. Sitokin seperti IL-1, IFN-alfa dan TNF-alfa tampak
merupakan mediator penting, dari aktifasi endotel. Sel endotel juga dapat
menghasilkan sitokin, seperti IL-1, IL-6, IL-8 dan TNF-alfa, yang mengup
regulasi ekspresi molekul adhesi. Selain itu, faktor pelengkap terlibat dan
mengaktifkan molekul adhesi di endothelium, yang membuat pasien mengalami CAPS.
Terakhir, otoantibodi, seperti aPL, sel antiendotelial dan anti-dsDNA,
dibuktikan berinteraksi dengan sel-sel endotel secara in vitro dan
meng up regulasi molekul adhesi dan tissue factor (TF).
Tidak ada
konsensus untuk pengobatan CAPS, karena belum ada penelitian multi senter
berskala besar. Terapi yang ada saat ini, berdasarkakan penelitian case series
berskala kecil. Tujuan pengobatan adalah untuk mencegah progresi thrombosis dan
membatasi produksi dan sirkulasi mediator inflamasi. Karenanya, pengobatan
terdiri dari terapi multimodal, dari antikoagulasi sampai imunosupresan,
seperti kortikosteroid atau agen sitotoksik seperticyclophosphamide, dan
sampai plasmapheresis dan immunoglobulin intravena.
Agen antiplatelet
Terapi
antiplatelet, seperti aspirin, klopidogrel dan dipyridamole telah digunakan
untuk pencegahan sekunder pada pasien dengan stroke dan transient ischemic
attacks. Kaul dan kawan-kawan mempublikasikan penelitian kecil, terhadap
delapan pasien yang tidak pernah mendapatkan warfarin, dan diobati dengan
antiplatelet dan menemukan satu kekambuhan stroke saat menggunakan klopidogrel.
Sekali lagi, manfaat dan risiko harus dipertimbangkan, ketika berencana
menggunakan terapi antiplatelet.
3.
Penyakit
Addison
Penyakit
Addison adalah hipofungsi kronik korteks adrenal primer akibat dari kerusakan
pada korteks adrenal. (Cermin Dunia Kedokteran No. 39) . Penyakit Addison
adalah penyakit yang terjadi akibat fungsi korteks tidak adekuat untuk memenuhi
kebutuhan pasienakan hormon-hormon korteks adrenal. (Soediman, 1996 ). Penyakit
Addison adalah lesi kelenjar primer karena penyakit destruktif atau atrofik,
biasanya autoimun atau tuberkulosa. (Baroon, 1994)
Penyakit
Adison merupakan penyakit yang jarang terjadi di dunia. Di Amerika Serikat
tercatat 0,4 per 100.000 populasi. Dari Bagian Statistik Rumah Sakit Dr.
Soetomo pada tahun 1983, masing-masing didapatkan penderita penyakit Addison.
Frekuensi pada laki-laki dan wanita hampir sama. Menurut Thom, laki-laki 56%
dan wanita 44% penyakit Addison dapat dijumpai pada semua umur, tetapi lebih
banyak ter- dapat pada umur 30 – 50 tahun .Pada bayi dan anak, penyakit Addison
mungkin disebabkan oleh kelainan genetik kelenjar adrenalin.
Kekurangan
adrenal sekunder adalah masa yang diberikan pada penyakit yang menyerupai
penyakit Addison. Pada penyakit ini, kelenjar adrenalin kurang aktif karena
kelenjar di bawah otak tidak merangsang mereka, bukan karena kelenjar adrenalin
sudah hancur atau dengan cara lain langsung gagal.
Ketika
kelenjar adrenalin menjadi kurang aktif, mereka cenderung memproduksi hormon
adrenal dengan jumlah yang tidak cukup sama sekali. Dengan begitu, penyakit
Addison mempengaruhi keseimbangan air, sodium, dan kalium di badan, serta kemampuan
badan untuk menguasai tekanan darah dan bereaksi terhadap tekanan. Selain itu,
kehilangan androgen, seperti Dehydroepiandrosterone (DHEA), mungkin menyebabkan
kehilangan rambut di badan wanita. Pada laki-laki, testosterone dari testes
dibuat lebih untuk kehilangan ini. DHEA mungkin mempunyai efek tambahan yang
tidak berhubungan dengan androgen.
Ketika
kelenjar adrenalin dihancurkan oleh infeksi atau kanker, medulla adrenal dan
sumber epinephrine hilang. Tetapi, kehilangan ini tidak menyebabkan gejala.
Kekurangan aldosterone secara khusus menyebabkan badan mengeluarkan sodium yang
banyak dan mempertahankan kalium, menyebabkan kadar sodium rendah dan kadar
kalium tinggi di darah. Ginjal tidak dapat menahan air kencing, oleh sebab itu
waktu penderita penyakit Addison minum terlalu banyak air atau kehilangan
terlalu banyak sodium, kadar sodium di darah turun. Ketidakmampuan untuk
menahan air kencing pada akhirnya membuat orang kencing secara berlebihan dan
menjadi dehidrasi. Dehidrasi hebat dan kadar sodium yang
rendah mengurangi volume darah dan bisa menyebabakn shock.
Kekurangan
kortikosteroid menyebabkan sensitivitas yang ekstrim pada insulin sehingga
kadar gula darah dapat turun hingga berbahaya (hypoglycemia). Kekurangan
tersebut mencegah badan memproduksi karbohidrat dari protein, melawan infeksi
dengan semestinya, dan mengontrol radang. Otot menjadi lemah, dan jantung pun
bisa menjadi lemah dan tak dapat memompakan darah secara memadai. Kemudian,
tekanan darah mungkin menjadi rendah yang berbahaya.
Orang
dengan penyakit Addison tidak dapat menghasilkan kortiksteroid tambahan sewaktu
mereka stress. Mereka oleh karena itu rentan
terhadap gejala dan komplikasi serius kalau dihadapkan dengan penyakitnya,
kepenatan yang berlebih, luka hebat, pembedahan, atau, mungkin, stress psikologis yang hebat.
Pada
penyakit Addison, kelenjar di bawah otak menghasilkan lebih banyak
corticotropin di dalam usaha untuk merangsang kelenjar adrenalin. Corticotropin
juga merangsang produksi melanin, oleh sebab itu kulit dan garis sepanjang
mulut sering terbentuk pigmentasi yang gelap.
GEJALA :
Segera
sesudah penyakit Addison terjadi, orang merasa lemah, lelah, dan pusing kalau
berdiri sesudah duduk atau berbaring. Masalah ini mungkin berkembang lambat
laun dan tak kentara. Orang dengan penyakit Addison memiliki spot kulit yang
gelap. Kegelapan mungkin nampaknya seperti karena sinar matahari, tetapi tampak
pada kulit yang terpapar matahari secara tidak merata. Orang dengan kulit gelap
pun bisa mengalami pigmentasi yang berlebihan, walaupun perubahan lebih sukar
untuk diketahuii. Bintik-bintik hitam mungkin berkembang di balik dahi, muka,
dan bahu, dan seorang kulit hitam kebiru-biruan pemudaran warna mungkin terjadi
di seputar puting susu, bibir, mulut, dubur, kantung kemaluan, atau
vagina.
Kebanyakan
orang kehilangan berat badan, menjadi dehidrasi, tidak mempunyai selera makan,
dan berkembang manjadi sakit otot, mual, muntah, dan diare. Banyak menjadi tidak dapat
mentolerir dingin. Kecuali kalau penyakit hebat, gejala cenderung menjadi nyata
hanya selama stress. Periode hypoglycemia, dengan
kecemasan dan sangat kelaparan untuk makanan asin, bisa terjadi, teristimewa
pada anak.
Jika
penyakit Addison tidak diobati, nyeri abdominal yang hebat, kelemahan yang
sangat, tekanan darah yang teramat rendah, kegagalan ginjal, dan shock mungkin
terjadi (krisis adrenal). Krisis adrenal sering terjadi jika badan mengalami
tekanan, seperti kecelakaan, luka, pembedahan, atau infeksi hebat. Kematian
dengan cepat mungkin mengikuti.
DIAGNOSA :
Karena
gejala mungkin mulainya dengan lambat dan tak kentara, dan karena tak ada satu
tes laboratorium yang memberi hasil pasti pada stadium awal, dokter sering
tidak mencurigai penyakit Addison pada awalnya. Kadang-kadang stress besar membuat gejala lebih
nyata dan menimbulkan krisis.
Pemeriksaan
darah mungkin memperlihatkan kadar sodium rendah dan kalium tinggi dan biasanya
menunjukkan bahwa ginjal tidak berfungsi dengan baik. Dokter yang mencurigai
penyakit Addison mengukur kadar cortisol yang mungkin rendah, dan kadar
corticotropin yang mungkin tinggi. Tetapi, dokter mungkin perlu menegaskan
diagnosanya dengan mengukur kadar cortisol terlebih dahulu setelah pemberian
satu injeksi corticotropin. Jika kadar cortisol rendah, tes lebih jauh
diperlukan untuk memutuskan jika masalah adalah penyakit Addison atau
kekurangan adrenal sekunder.
PENGOBATAN
Tanpa memperhatikan penyebabnya, penyakit Addison bisa mengancam hidup dan harus diobati dengan kortikosteroid dan cairan infuse ke dalam pembuluh darah. Biasanya, pengobatan bisa dimulai dengan hydrocortisone atau prednisone (kortikosteroid buatan) dengan pemberian oral. Tetapi, orang yang sakitnya parah perlu diberi cortisol dengan infus atau intramuskuler pada awalnya dan lalu tablet hydrocortisone. Karena tubuh biasanya menghasilkan cortisol paling banyak di pagi hari, pemberian hydrocortisone juga sebaiknya diberikan dalam dosis terbagi, dengan dosis yang paling besar di pagi hari.
Tanpa memperhatikan penyebabnya, penyakit Addison bisa mengancam hidup dan harus diobati dengan kortikosteroid dan cairan infuse ke dalam pembuluh darah. Biasanya, pengobatan bisa dimulai dengan hydrocortisone atau prednisone (kortikosteroid buatan) dengan pemberian oral. Tetapi, orang yang sakitnya parah perlu diberi cortisol dengan infus atau intramuskuler pada awalnya dan lalu tablet hydrocortisone. Karena tubuh biasanya menghasilkan cortisol paling banyak di pagi hari, pemberian hydrocortisone juga sebaiknya diberikan dalam dosis terbagi, dengan dosis yang paling besar di pagi hari.
Hydrocortisone harus diminum setiap hari sepanjang hidup penderita. Dosis hydrocortisone yang lebih besar diperlukan kalau tubuh stress, khususnya sakit, dan mungkin perlu untuk diberikan melalui injeksi jika orang mengalami diare hebat atau muntah.
Kebanyakan orang juga perlu untuk minum tablet fludrocortisone setiap hari untuk membantu tubuh mengeluarkan secara normal sodium dan kalium. Testosterone tambahan biasanya tidak diperlukan, walaupun ada beberapa bukti bahwa penggantian dengan DHEA memperbaiki kualitas kehidupan. Walaupun pengobatan harus dilakukan seumur hidup, prognosisnya baik.
Pada orang yang menerima dosis besar corticosteroids, seperti prednisone, fungsi kelenjar adrenalin bisa tertekan. Tekanan ini terjadi karena dosis besar corticosteroids mencegah hypothalamus dan kelenjar di bawah otak yang menghasilkan hormon biasanya merangsang fungsi adrenal. Jika orang dengan tiba-tiba berhenti minum kortikosteroid, badan tidak bisa memulihkan fungsi adrenal dengan cukup cepat, dan sementara membuat kekurangan adrenal (kondisi mirip penyakit Addison).
Juga, kalau stress terjadi, tubuh tidak dapat merangsang produksi kortikosteroid tambahan yang diperlukan. Oleh karena itu, dokter tidak pernah menghentikan penggunaan kortikosteroid secara tiba-tiba jika orang sudah minum obat lebih dari 2 atau 3 minggu.
Sebaliknya, dokter secara perlahan mengurangi (memperkecil) dosis dalam beberapa minggu dan kadang-kadang beberapa bulan. Juga, dosis mungkin perlu ditambahkan pada penderita yang menjadi sakit atau karena hala lain mengalami stess yang parah sewaktu minum kortikosteroid. Penggunaan kortikosteroid mungkin perlu dilanjutkan pada orang yang menjadi sakit atau mengalami stress yang parah dalam beberapa minggu sewaktu dosis kortikosteroid yang diperkecil atau dihentikan.
4.
Seliaka
Seliaka adalah gangguan autoimun dari usus
kecil yang terjadi pada orang genetik cenderung dari segala usia dari bayi dan
seterusnya tengah. Gejala termasuk diare kronis, gagal tumbuh (pada anak), dan
kelelahan, tetapi mungkin tidak ada, dan gejala pada sistem organ lainnya telah
dijelaskan. Sebagian pertumbuhan diagnosis sedang dilakukan pada orang tanpa
gejala sebagai akibat dari skrining meningkat.
Seliaka
ini disebabkan oleh reaksi terhadap gliadin, sebuah prolamin (protein gluten)
ditemukan dalam gandum, dan protein serupa yang ditemukan dalam tanaman dari
suku
Triticeae
(yang termasuk kultivar lainnya seperti barley dan gandum). Setelah paparan
gliadin, dan prolamins tertentu lainnya, yang transglutaminase jaringan enzim
memodifikasi protein, dan sistem kekebalan tubuh bereaksi silang dengan
jaringan usus kecil, menyebabkan reaksi inflamasi. Yang mengarah pada
truncating dari vili usus kecil lapisan (disebut atrofi vili). Hal ini
mengganggu penyerapan nutrisi, karena vili usus bertanggung jawab untuk
penyerapan.
Pengobatan
yang efektif hanya diketahui adalah diet bebas gluten seumur hidup. Sedangkan
penyakit yang disebabkan oleh reaksi terhadap protein gandum, itu tidak sama
dengan alergi gandum.
Kondisi
ini memiliki beberapa nama lain, termasuk: penyakit
seliaka (dengan''œ ligatur''), c (o) eliac sariawan, non-tropis
sariawan, sariawan endemik, enteropati gluten atau gluten-sensitif
enteropati, dan intoleransi gluten. Para''''celiac Istilah
berasal dari bahasa Yunani κοιλιακός (''''koiliakόs, "perut"), dan
diperkenalkan pada abad ke-19 dalam terjemahan dari apa yang umumnya dianggap
sebagai penjelasan Yunani kuno penyakit dengan Aretaeus dari Cappadocia.
5.
Hepatitis
autoimun
Hepatitis autoimun (AIH), yang dahulu disebut sebagai lupoid hepatitis atau
hepatitis kronik autoimun, adalah suatu gangguan hati kronis nekroinflamatori
yang belum diketahui penyebabnya, dengan karakteristik secara histologik berupa
infiltrasi sel mononuklear di saluran portal dan secara serologis adanya
autoantibodi terhadap antigen hati yang spesifik dan yang tidak spesifik serta
adanya peningkatan kadar immunoglobulin G (igG) serum (Krawitt,
1996;Sukerek, 2002).
Hepatitis autoimun
merupakan penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya kematian
sel hati, pembentukan jaringan ikat yang disertai pembentukan benjolan. Hal ini
dapat menyebabkan gangguan aliran darah ke hati dan mengganggu fungsi
hati. Sistem kekebalan tubuh biasanya membuat antibodi untuk menyerang
bakteri, virus, dan kuman lainnya. Pada hepatitis autoimun,sistem kekebalan tubuh
membuat antibodi terhadap sel-sel hati yang dapat menyebabkan kerusakan dan
sirosis.
Penyebab dari hepatitis
autoimun tidak diketahui. Beberapa agen diperkirakan dapat dianggap sebagai
pencetus terjadinya proses autoimun pada hepatitis autoimun antara lain virus,
bakteri, bahan kimia, obat, dan faktor genetik. Semua virus hepatotropik dapat
dianggap sebagai pencetus hepatitis autoimun, termasuk virus measles, hepatitis
A, hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, herpes simpleks tipe 1 dan virus
Epstein-Barr(Manns,1995;Manns,1999)
Studi awal menyebutkan bahwa
hepatitis autoimun adalah suatu penyakit kelainan imunoregulasi yang ditandai
dengan disfungsi pada sel T-supresor. Hal ini menyebabkan produksi
autoantibodi, yang diproduksi oleh sel B, melawan antigen permukaan hepatosit
(autoantigen) (Mabee, 2000;Sherlock, 1999).
Suatu model spekulatif dari
imunopatogenesis hepatitis autoimun menunjukkan bahwa secara genetik, infeksi
virus pada hati yang bersifat hepatotropik atau non-hepatotropik mengakibatkan
suatu respon sel T yang menyebabkan hepatotoksisitas dan menstimulasi respon
sel B terhadap virus-mediated surface neoantigens. Selanjutnya NK cells dan
MHC-unrestricted CD8+ killer cells akan mengenali dan membunuh
autoantibody-coated liver cells oleh antibody-dependent cellular cytotoxicity
(ADCC), sehingga terjadi apoptosis hepatosit (Mabee, 2000).
Bukti menyebutkan bahwa kerusakan
hati pada penderita dengan hepatitis autoimun merupakan hasil dari serangan
cell mediated autoimun. Serangan ini ditujukan pada hepatosit yang secara
genetik mudah terpengaruh/rentan. Gambaran aneh dari human leukocyte antigen
(HLA) kelas 2 pada permukaan hepatosit memfasilitasi presentasi sel hati normal
dipilih untuk proses antigen sel. Aktivasi sel ini , secara bergiliran,
menstimulasi ekspansi klonal dari autoantigen-sensitized cytotoxic T
lymphocytes. T limfosit sitotoksik menginfiltrasi jaringan hati, mengeluarkan
cytokines dan merusak sel hati (Raghuraman, 2002).
Penyebab dari gambaran aneh dari HLA
masih belum jelas. Ini mungkin dicetuskan oleh faktor genetik, infeksi virus
(mis. hepatitis akut A atau B, virus Epstein-Barr) dan bahan kimia (mis.
interferon, melatonin, alfa metildopa, oksifenisatin, nitrofurantoin, asam
tienilik). Reseptor asialoglikoprotein dan sitokrom mono-oksigenase P-450 IID6
ditengarai sebagai pencetus autoantigen (Raghuraman, 2002).
Pendapat terbaru tentang mekanisme
kerusakan hati autoimun adalah secara tak langsung melibatkan interaksi antara
CD4+ T limfosit dengan suatu self-antigenic peptide (Sukerek, 2002).
Beberapa penderita secara genetik
rentan untuk menjadi hepatitis autoimun. Kondisi ini berhubungan dengan
komplemen alel C4AQO dan HLA halotipe B8, B14, DR3, DR4 dan Dw3. Delesi gen C4A
dihubungkan dengan timbulnya hepatitis autoimun pada usia muda. Penderita
dengan HLA DR3 positif lebih sering menjadi penyakit agresif, terjadi pada usia
yang lebih muda, kurang responsive terhadap terapi medik sehingga lebih sering
memerlukan tranplantasi hati. Sedangkan pada penderita dengan HLA DR4 positif
lebih sering timbul dengan manifestasi ekstrahepatik (Raghuraman, 2002;Sukerek,
2002).
Secara genetik juga dilaporkan
tentang defiensi C4 parsial. C4 diketahui berperan pada netralisasi virus.
Kegagalan mengeliminasi virus dapat menyebabkan terjadinya reaksi imun melawan
antigen pada sel yang terinfeksi. Diantara virus-virus yang dapat mencetuskan
reaksi ini adalah rubella, Epstein-Barr dan hepatitis A,B dan C (Sukerek,
2002).
Obat-obatan juga dapat mencetuskan
terjadinya hepatitis autoimun. Namun tak satupun obat yang diidentifikasi
sebagai penyebab hepatitis autoimun (Manns, 1999).
Gejala
Hepatitis autoimun memiliki
kecenderungan menimbulkan ciri-ciri yang berbeda pada tiap orang yang
menderitanya. Pada mereka yang mengalami gejala ringan, kecil kemungkinannya
berkembang menjadi sirosis hati. Pada penderita hepatitis autoimun yang berat,
sekitar 40 % penderita mengalami kematian dalam waktu 6 bulan jika tidak
diobati. Untungnya, keadaan yang parah hanya terjadi 20 % dari kasus yang
terjadi. Penderita yang mengalami hepatitis autoimun yang ringan biasanya akan
sembuh spontan. Sedangkan mereka yang mengalami perkembangan menjadi sirosis
hati akan menimbulkan komplikasi yang lain yaitu kanker hati.
Gejala yang ditimbulkannya mirip
dengan gejala hepatitis virus kronis. Gejala yang timbul perlahan-lahan atau
mendadak tiba-tiba yang awalnya mirip hepatitis akut. Hepatitis autoimun ini
terbagi atas beberapa kelompok yang berbeda, yaitu:
1. Hepatitis
autoimun tipe I, mirip penyakit lupus. Pada pemeriksaan darah ditemukan ANA dan
peningkatan kadar globulin. Sering dijumpai pada wanita muda hingga usia
pertengahan dengan keluhan lesu, hilangnya nafsu makan, jerawat, nyeri sendi
dan kuning.
2. Hepatitis autoimun tipe II, biasanya pada anak-anak dan sering dijumpai pada penduduk di daerah Mediterania. Pada kelainan tipe ini, dijumpai anti-LKM antibodi pada tubuh penderita. Hepatitis autoimun tipe II terbagi lagi atas 2 golongan, yang pertama berdasarkan reaksi autoimun ( IIa ) dan yang lainnya (IIb) adalah reaksi autoimun yang berkaitan dengan hepatitis C.
a. Tipe
IIa banyak ditemukan pada wanita muda. Pada kelainan ini ditemukan peningkatan
kadar globulin di dalam darah penderita dan memberikan respon
yang baik terhadap steroid.
b. Tipe
IIb, tipe ini berkaitan dengan infeksi hepatitis C ; cenderung terjadi pada
pria-pria berusia lanjut dan sering ditemukan di negara-negara di daerah
Mediterania. Pada tipe ini, kadar globulin darah normal dan memberikan respons
yang baik terhadap interferon.
Selain itu ada beberapa gejala
lainnya yang timbul pada wanita muda penderita hepatitis autoimun, diantaranya
adalah:
- jerawat.
- terhentinya siklus
menstruasi(amenorea).
- nyeri sendi.
- pembentukan jaringan
parut di paru-paru.
- peradangan kelenjar
tiroid dan ginjal.
- Anemia
Pengobatan
Secara umum, kerusakan sel-sel hati
tidak dapat direhabilitasi. Tujuan pengobatan adalah mencegah pembentukan
jaringan parut hati lebih lanjut, atau memperlambat kerusakan sel-sel
hati. Sirosis cenderung semakin memburuk jika penyebab yang mendasari
tetap ada. Oleh karena itu perlu upaya untuk memperlambat atau
menghentikan penyebab sirosis, misalnya:
- Tidak minum alkohol jika
alkohol adalah penyebabnya.
- Pengobatan untuk mengendalikan
virus hepatitis.
- Steroid atau obat penekan
kekebalan lainnya untuk mengobati penyakit autoimun menyebabkan kerusakan
hati.
- Penghapusan kelebihan zat besi
yang terjadi pada hemokromatosis.
Berbagai pengobatan mungkin
disarankan, tergantung pada tingkat keparahan sirosis dan gejala yang
berkembang, antara lain:
- Diet rendah natrium atau
diuretik untuk mengurangi cairan yang terakumulasi dalam tubuh.
- Obat untuk mengurangi gatal.
- Obat-obatan yang dapat membantu
mengurangi hipertensi portal.
- Pengurangan cairan yang
menumpuk di perut (ascites).
Bila pasien mengalami perdarahan
usus sehingga muntah darah, atau mengeluarkan darah melalui tinja, atau tinja
menjadi hitam, dokter mungkin akan segera melakukan tindakan untuk
mengatasinya. Berbagai teknik bedah dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan
dan mengurangi risikonya lebih lanjut.
Dalam kasus yang parah di mana
jaringan parut meluas dan hati nyaris tidak bisa berfungsi, maka transplantasi
hati mungkin adalah satu-satunya pilihan.
6.
Alopecia
Areata
Kata alopecia sendiri dalam dunia kedokteran bermakna secara
umum untuk menyebut (kondisi) kebotakan. Ketika rambut tiba-tiba rontok
(biasanya pada kulit kepala), mungkin saja itu adalah alopecia areata.
Biasanya bentuknya terlokalisir pada sebuah atau lebih area yang umumnya
membentuk lingkaran kulit kepala yang bersih dari rambut, dan tidak ada
tanda-tanda kelainan spesifik lain yang tampak kasat mata, termasuk tidak nyeri
ataupun gatal. Jika ada kelainan lain yang tampak, mungkin saja itu bukan alopecia
areata.
Tentu saja ada sejumlah jenis alopecia
areata, namun semua adalah kondisi yang didapatkan dan tidak bersifat
menular. Kadang selain pada kulit kepala, mengenai juga rambut pada daerah lain
yang lebih jarang terjadi atau disadari, seperti pada bulu dan alis mata,
rambut pubis (sekitar kemaluan), atau rambut di lipatan ketiak.
Umumnya jarang terjadi pada usia
sebelum 3 tahun, meski bisa terjadi pada semua usia. Dan paling sering pada
anak-anak usia 5-12 tahun, atau pada dewasa usia antara 30 sampai 60 tahun.
Meski lebih sering hanya
mempengaruhi area tertentu pada kulit kepala, namun dapat terjadi (meskipun
jarang) seseorang akan kehilangan rambut pada seluruh kepalanya (alopecia
areata totalis) atau pada seluruh tubuh (alopecia areata universalis).
Penyebab alopecia areata tidak
diketahui secara jelas, namun setidaknya sejumlah hipotesis menunjukkan antara
kondisi imunitas (autoimunitas) serta keturunan memiliki kemungkinan terlibat
di dalam proses terjadinya.
Kecurigaan karena faktor keturunan
disebabkan oleh ditemukannya frekuensi munculnya alopecia areata cenderung
lebih tinggi pada keluarga yang memiliki riwayat serupa. Beberapa penelitian
genetika sedang dilangsungkan untuk menemukan hubungan genetik munculnya
kondisi ini pada seseorang – terutama penelitian yang terfokus pada human
leukocyte antigen dan gen interleukin 1 receptor agonist.
Hipotesis yang paling didukung
adalah kondisi autoimun yang menyebabkan terjadinyaalopecia areata.
Proses alopecia areata tampaknya dimediasi oleh sel-T, dan
antibodi yang diarahkan menuju struktur folikel (akar) rambut juga sering
ditemukan. Sehingga diduga, sistem pertahanan tubuh kita sendiri telah
menyerang folikel rambut dan mengganggu pertumbuhan rambut normal. Karena hal
ini, alopecia areata sering dihubungkan dengan kondisi
autoimun lainnya seperti kelainan alergi, penyakit tiroid, vitiligo, lupus,
artritis reumatoid dan kolitis ulseratif.
Diagnosis :
alopecia areata umumnya sangat mudah, karena karakteristiknya yang
khas. Pun demikian alopecia areata masih memiliki sejumlah
diagnosis banding lainnya seperti alopecia andorgenetic, psudopelade, syphilis, telogen
effluvium, tinea capitis, atau trichotillomania.
Dan jika diagnosis dan kecurigaan alopecia areata masih belum bisa dipastikan,
pemeriksaan biopsi mungkin akan disarankan, namun sangat jarang sampai
diperlukan.
Ada kecenderungan di mana kondisi
alopecia areata akan sembuh secara spontan, sehingga terapi/pengobatan tidaklah
selalu dimandatkan. Dan secara umum, alopecia areata saat ini bukanlah suatu
kondisi yang dapat disembuhkan, namun dapat diobati sedemikian hingga membantu
rambut tumbuh kembali.
Pengobatan / Perawatan
Pilihan terapi untuk alopecia
areata yang umum adalah menggunakan kortikosteroid, obat
anti-peradangan yang diresepkan untuk penyakit autoimun. Bentuknya bisa beragam,
bisa melalui suntikan, pil, atau krim. Respons terapinya akan memerlukan waktu
bertahap. Obat lain yang mungkin digunakan adalah rogaine (minoxidil),
biasanya akan memerlukan waktu sekitar 12 minggu sebelum rambut mulai tumbuh,
dan hasil terapinya bisa jadi mengecewakan.
Karena alopecia areata tidak
dapat diprediksi kemunculannya, serta kondisi yang memperburuknya. Kondisi ini
tidak selalu bisa kembali dengan sendirinya, bahkan mungkin berkembang ke arah
bentuk totalis atau universalis.
Temui dokter atau spesialis kulit
dan kelamin untuk mendapatkan informasi, penjelasan dan bantuan lebih lanjut
jika Anda mengalami kondisi ini. Dan karena alopecia areatajuga
bisa memunculkan isu psikososial akibat stres psikologis pada penampilan yang
ditimbulkan, seseorang mungkin akan mengalami fobia sosial, kecemasan, atau
depresi, berkonsultasi dengan psikiater dapat membantu Anda mengatasi situasi
ini jika mengalaminya.
7.
Ankylosing
Spondylitis
Ankylosing spondylitis adalah bentuk
peradangan kronis dari tulang belakang (spine) dan sendi-sendi tulang
sacroiliac (sacroiliac joints). Sacroiliac joints berlokasi pada belakang bawah
dimana sakrum (tulang kelangkang, tulang yang tepat berada diatas tulag ekor)
bertemu tulang-tulang ilium (tulang-tulang yang berada di kedua sisi dari
bokong atas). Peradangan kronis pada area-area ini menyebabkan nyeri dan
kekakuan dalam dan sekitar tulang belakang (spine). Dengan berjalannya waktu,
peradangan spine yang kronis (spondylitis) dapat menjurus pada suatu penyatuan
bersama sepenuhnya (fusion) dari vertebra-vertebra, proses yang dirujuk
sebagai ankylosis. Ankylosis menjurus pada kehilangan mobilitas dari
tulang belakang (spine).
Ankylosing spondylitis adalah juga
suatu penyakit rematik sistemik, yang berarti ia dapat mempengaruhi
jaringan-jaringan lain diseluruh tubuh. Karena itu, ia dapat menyebabkan
peradangan atau luka pada sendi-sendi tulang lain yang jauh dari spine, begitu
juga pada organ-organ lain, seperti mata-mata, jantung, paru-paru, dan
ginjal-ginjal. Ankylosing spondylitis berbagi banyak ciri-ciri dengan beberapa
kondisi-kondisi arthritis lain, seperti psoriatic arthritis, reactive
arthritis, danarthritis yang berhubungan dengan penyakit Crohn dan radang borok usus besar (ulcerative
colitis). Setiap dari kondisi-kondisi
arthritis ini dapat menyebabkan penyakit dan peradangan pada spine, sendi-sendi
tulang lain, mata-mata, kulit, mulut, dan beragam organ-organ. Mengingat bahwa
persamaan dan kecenderungan mereka menyebabka peradangan dari spine,
kondisi-kondisi ini secara kolektif dirujuk sebagai
"spondyloarthropathies".
Ankylosing spondylitis adalah dua
sampai tiga kali lebih umum pada pria-pria daripada pada wanita-wanita. Pada
wanita-wanita, tulang-tulang sendi yang berjauhan dari spine lebih sering
dipengaruhi daripada pada pria-pria. Ankylosing spondylitis mempengaruhi semua
kelompok umur, termasuk anak-anak. Umur yang paling umum timbulnya gejala-gejala
adalah di dekade kedua dan ketiga dari kehidupan.
Penyebab :
Kecenderungan mengembangkan
ankylosing spondylitis dipercayai adalah diwariskan secara genetik, dan
mayoritas (hampir 90%) dari pasien-pasien dengan ankylosing spondylitis
dilahirkan dengan gen HLA-B27. Tes-tes darah telah dikembangkan untuk
mendeteksi marker gen HLA-B27 dan telah memajukan pengertian kita tentang
hubungan antara HLA-B27 dan ankylosing spondylitis. Gen HLA-B27 tampaknya hanya
meningkatkan kecenderungan mengembangkan ankylosing spondylitis, dimana beberap
faktor-faktor tambahan, mungkin lingkungan, adalah perlu untuk timbulnya
penyakit atau menjadi jelas. Contohnya, ketika 7% dari populasi Amerika
mempunyai gen HLA-B27, hanya 1% dari populasi yang benar-benar mempunyai penyakit
ankylosing spondylitis. Di bagian utara Skandinavia (Lapland), 1.8% dari
populasi mepunyai ankylosing spondylitis sedangkan 24% dari populasi umum
mempunyai gen HLA-B27. Bahkan diantara individu-individu yang positif HLA-B27,
risiko mengembangkan ankylosing spondylitis tampaknya lebih jauh berhubungan
dengan keturunan. Pada individu-individu yang positif HLA-B27 yang mempunyai
saudara-saudara dengan penyakit ini, risiko mereka mengembangkan ankylosing
spondylitis adalah 12% (enam kali lebih besar daripada mereka yang
saudara-saudaranya tidak mempunyai ankylosing spondylitis).
Akhir-akhir ini, dua lagi gen-gen
telah diidentifikasikan yang berkaitan dengan ankylosing spondylitis. Gen-gen
ini disebut ARTS1 dan IL23R. Gen-gen ini tampaknya memainkan
peran dalam mempengaruhi fungsi imun. Diantisipasikan bahwa dengan mengerti
efek-efek dari setiap dari gen-gen yang diketahui ini, peneliti-peneliti akan
membuat kemajuan-kemajuan yang signifikan dalam menemukan penyembuhan untuk
ankylosing spondylitis.
Bagaimana peradangan terjadi dan
menetap pada organ-organ dan sendi-sendi tulang yang berbeda pada ankylosing
spondylitis adalah persoalan dari penelitian yang aktif. Setiap individu
cenderung mempunyai pola unik kehadiran dan aktivitas dari penyakit mereka sendir.
Peradangan awal mungkin adalah akibat dari aktivitas dari sistim imun tubuh
oleh infeksi bakteri atau kombinasi dari kuman-kuman infeksi. Sekali
diaktifkan, sistim imun tubuh menjadi tidak mampu untuk memadamkannya sendiri,
meskipun infeksi bakteri awal mungkin telah hilang lama. Peradangan jaringan
yang kronis yang berakibat dari aktivitas yang terus menerus dari sistim imun
tubuh pada ketidakhadiran dari infeksi yang aktif adalah tanda dari penyakit
peradangan autoimun.
Gejala :
Gejala-gejala ankylosing spondylitis berhubungan dengan peradangan dari spine,
sendi-sendi tulang (joints), dan organ-organ lain. Kelelahan adalah gejala umum
yang berkaitan dengan peradangan aktif. Peradangn spine menyebabkan nyeri dan
kekakuan pada belakang bawah , area bokong atas, leher, dan sisanya spine.
Timbulnya nyeri dan kekakuan biasanya secara berangsur-angsur dan memburuk
secara progresif melalui waktu berbulan-bulan. Adakalanya, timbulnya sangat
cepat dan hebat/keras. Gejala-gejala nyeri dan kekakuan adalah seringkali parah
waktu pagi atau setelah periode-periode tidak aktif yang panjang. Nyeri dan
kekakuan seringkali mereda dengan gerakan, panas, dan mandi hangat pada pagi
hari. Karena ankylosing spondylitis seringkali mempengaruhi pasien-pasien masa
remaja, timbulnya nyeri belakang bawah kadangkala disalahartikan sebagai
luka-luka olahraga pada pasien-pasien yang lebih muda.
Diagnosis:
Diagnosis dari ankylosing
spondylitis berdasarkan pada evaluasi gejala-gejala pasien, pemeriksaan fisik,
penemuan-penemuan x-ray, dan tes-tes darah. Gejala-gejala termasuk nyeri dan
kekakuan dari spine dan area-area sakrum pada pagi hari dengan atau tanpa
diiringi peradangan pada sendi-sendi tulang, tendon-tendon, dan organ-organ
lainnya. Gejala-gejala awal dari ankylosing spondylitis dapat sangat
memperdayakan/menipu, karena kekakuan dan nyeri pada belakang bawah (low back)
dapat terlihat pada banyak kondisi-kondisi lain. Ia dapat sangat sulit
dipisahkan pada wanita-wanita, yang cenderung (namun tidak selalu) mempunyai keterlibatan
spine yang lebih ringan. Tahun-tahun dapat belalu sebelum diagnosis ankylosing
spondylitis bahkan dipertimbangkan.
Pemeriksaan dapat mempertunjukkan
tanda-tanda peradangan dan pengurangan batasan dari gerakan tulang-tulang
sendi. Ini dapat sangat jelas pada spine. Fleksibilitas dari belakang bawah
(low back) dan/atau leher dapat dikurangi. Mungkin ada kelembutan dari
tulang-tulang sendi sacroiliac dari bokong-bokong bagian atas. Ekspansi dari
dada dengan bernapas penuh dapat dibatasi karena kekakuan dari dinding dada.
Orang-orang yang dipengaruhi sangat berat dapat mempunyai suatu postur tubuh
yang membungkuk. Peradangan mata dapat dievaluasi oleh dokter
dengan ophthalmoscope.
Tanda-tanda yang lebih jauh pada
diagnosis disarankan oleh kelainan-kelainan x-ray dari spine dan kehadiran dari
tes darah untuk penanda genetik, gen HLA-B27. Tes-tes darah lain mungkin
menyediakan bukti peradangan didalam tubuh. Contohnya, tes darah
disebut angka sedimentasi adalah penanda nonspesifik untuk peradangan
diseluruh tubuh dan sering meningkat dalam kondisi-kondisi seperti ankylosing
spondylitis.
Analisa urin seringkali dilakukan
untuk mencari kelainan-kelainan ginjal yang mengiringinya, begitu juga untuk
mengeluarkan kondisi-kondisi ginjal yang mungkin menghasilkan nyeri belakang
(back pain) yang meniru ankylosing spondylitis. Pasien-pasien juga dievaluasi
secara simultan untuk gejala-gejala dan tanda-tanda dari spondyloarthropathies
yang berkaitan lainnya, seperti psoriasis, penyakit kelamin
atau dysentery (reactive arthritis atau penyakit Reiter), dan
penyakit peradangan usus (ulcerative colitis atau penyakit Crohn).
Pengobatan
Pengobatan
Medis :
Sesegeralah memulai pengobatan bila
kita mendapati gejala-gejala yang mengarah pada arthritis.- Kenalilah
tanda-tanda bahwa kita terkena arthritis, bila rasa nyeri, kaku, pegal linu tak
hilang bahkan semakin menjadi dalam jangka waktu lama tanpa treatment, ini
sudah merupakan sinyal-sinyal peringatan.
- Periksakanlah diri ke dokter umum untuk memastikan bahwa diri kita memang terkena arthritis. Mintalah cek urine-darah/lab. Dan mintalah surat pengantar ke dokter internis-rematologis untuk meneruskan pengobatan pada ahlinya setelah terbukti kita mengidap arthritis.
- Bila diperlukan kita dapat menerima bedah ortopedik untuk memperbaiki otot, tendon, ligament dan tulang serta sendi yang perlu diperbaiki.
- Periksakanlah diri ke dokter umum untuk memastikan bahwa diri kita memang terkena arthritis. Mintalah cek urine-darah/lab. Dan mintalah surat pengantar ke dokter internis-rematologis untuk meneruskan pengobatan pada ahlinya setelah terbukti kita mengidap arthritis.
- Bila diperlukan kita dapat menerima bedah ortopedik untuk memperbaiki otot, tendon, ligament dan tulang serta sendi yang perlu diperbaiki.
- Fisioterapi khusus untuk mencegah memburuknya fungsi persendian dan untuk rehabilitasi.
Yang perlu digaris bawahi di sini
adalah, arthritis tidak dapat disembuhkan total, tetapi dapat dikontrol agar
kerusakan yang terjadi menjadi lebih lamban, dan sakit yang ditimbulkan agar
dapat diatasi. Oleh karena itu, mereka yang terkena arthritis diharapkan
mengenali/mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai penyakit ini, mempersiapkan
diri secara mental dan fisik serta lingkungan untuk dapat mempunyai kesabaran
dan ketangguhan menghadapi rasa sakit dan stress akibat penyakit yang akan
berada dalam tubuh selamanya dan perlu penanganan seumur hidup.
Pengobatanpun sangat bervariasi dari
orang per-orang. Karena rasa nyeri dan sakit yang diderita saat arthritis
menyerang, diperlukan strategi untuk mengendalikan rasa sakit ini, dari
mengkonsumsi obat dokter, contohnya : (ibuprofen 1 tablet sehari/800 mg,
naproxen 2 tablet perhari/500 mg, celebrex 1 tablet perhari/ 200 mg arthrotec 2
tablet perhari/75 mg, lodine LX 2 tablet per hari/400 mg) hingga menambah
pengetahun diri mengenai arthritis, membuat support-group sesama penderita
arthritis, menurunkan berat badan dan berolahraga, mengkonsumsi pengurang rasa
sakit, seperti acetaminophen (panadol, excedrin, tylenol).
Beberapa obat arthritis yang bukan
steroid : a.l: diclofenac potassium/cataflam, diclofenac sodium/voltaren,
diclofenac sodium with misoprostol/arthotec, etodolac/lodine XL, ibuprofen/advil,
motrin IB, ketoprofen/actron.
Dapat pula dioleskan
salep/krim/lotion pengurang rasa sakit/analgesic pada bagian yang
sakit/bengkak/meradang sesuai anjuran dokter atau petunjuk pemakaian.
Pengobatan
Alternatif :
Selain pengobatan medis dokter, ada
banyak alternatif pengobatan yang dapat digunakan untuk mengatasi rasa sakit,
peradangan, pembengkakan sendi.
Sama dengan semua pengobatan
arthritis, diperlukan kehati-hatian dan ketelitian serta lebih baik bila
mengkonsultasikan dengan dokter sebelum memulai mengkonsumsi atau menggunakan
pengobatan alternatif, untuk melindungi diri dan mendapatkan pengobatan yang
wholistik dan saling mendukung. Pengobatan alternatif tersebut, a.l:
- Akupunktur
- Aloe : Lidah Buaya : gel/lotion
pengurang rasa sakit
- Alpukat dan ASU (Soybean
Unsaponifies) pil dosis 300 mg perhari
- Ayurveda
- Aromaterapi
- BVT (Bee Venom Therapy) Terapi
Sengatan Lebah, sebaiknya tes alergi dahulu, karena yang positif alergi
racun lebah reaksinya sangat fatal (kematian dalam waktu singkat)
- Biofeedback
- Metode relaksasi dengan
berbagai teknik relaksasi untuk mengatasi rasa sakit. Bisa diperoleh
melalui bag.fisioterapi rumah sakit.
- Boron, dosis 1-3 mg per-hari
bisa melalui suplemen
- Boswellia, nama lainnya
frankincense dosis 150mg per-hari
- Breathing Technique, latihan
bernafas dalam dengan pernafasan perut
- Cartilage -building Substances,
dari chondroitin sulfate dan glucosamine, meskipun belum ada bukti pasti
akan khasiatnya.
- Chinese Medicine, terapi ki
(reiki),tai chi dan qi gong di samping akupunktur terbukti dapat mengatasi
arthritis.
- Chiropractic Medicine, meskipun
dapat mengurasi rasa sakit pada beberapa kasus arthritis, sebaiknya mereka
dengan ankylosing spondylitis, oeteoporosis dan rheumatoid arthritis
menghindari treatment chiropractic.
- Chondroitin Sulfate, supplemen
600 mg per-hari dikonsumsi bersama glucosamine memerlukan waktu sebulan
konsumsi sampai terlihat efeknya.
- Collagen
- Copper Bracelet/GelangTembaga,
ini juga belum ada bukti secara ilmiah bahwa tembaga dapat mengurangi rasa
sakit akibat arthritis.
- DMSO (Dimethyl Sulfoxide), DMSO
adalah semacam larutan yang dipakai di industri, yang seperti turpentine
dijual di toko kesehatan sebagai obat untuk arthritis. Ada yang
mempercayai bahwa DMSO ini dapat mengurangi bengkak dan rasa sakit bila
dioleskan di daerah yang meradang. Di Amerika DMSO ini tidak diizinkan
oleh FDA untuk digunakan pada manusia. Apalagi DMSO yang dijual di toko
bangunan besar kemungkinanya untuk mengandung zat beracun. Tidak
dianjurkan oleh ahli arthritis untuk menggunakan DSMO.
- Evening Primrose Oil, 1.8 gr
GLA (gamma-linolenic acid)per-hari
- Fish Oil, 3 gr EPA-DHA
(eicosapennntaenoic acid-docosahexaenoic acid)
- Flaxseed, dosis 1-3 sdm
flaxseed oil atau ¼ cup flaxseed.
- Green Tea, 3-4 cup sehari
- Herbal Remedies, baik secara
Timur/Barat, sebaiknya dihindari saat ingin hamil atau sedang hamil karena
akan berpengaruh pada perkembangan bayi.
- Homeopathy
- Hypnosis, terbukti membantu
mengatasi rasa sakit dan mengurangi stress.
- Journal Writing, membantu
penderita mengatasi rasa sakit dan stress.
- Kava, dosis 140-240 mg perhari
- Massage, sebelum pijat beritahu
pemijat agar memberikan pijat lembut, karena pijat yang terlalu keras akan
semakin memperparah arthritis. Jangan pijat bagian yang meradang, sakit
atau mengalami pembengkakan.
- Meditasi, sangat bermanfaat
bagi penderita untuk menghadapi penyakit, rasa sakit, dan stress.
- Muscle Relaxation (peregangan
otot)
- Naturopathic Medicine, lebih
memfokuskan pada perubahan ke gaya hidup sehat
- Osteophatic Medicine
- Prayer, sangat bermanfaat dalam
penyembuhan
- Relaxation Techniques
- SAM /SAMe(S-adenosylmethionine)
dosis 200-400 mg 3 x sehari.Daripada mengkonsumsi supplemen, lebih baik
mendapat dari asupan brokoli, sayuran hijau, lettuce dan dibantu dengan
Vit B (folic acid dan Vit. B 12)
- Urtica, 50 gr stewed urtica
atau 1,340 gr urtica dioica bubuk.
- Kunyit, 400 mg 3x sehari
- Visualisasi
- Willow Bark Tea 10 cup=2 tablet
aspirin
- Zinc Supplement, 50 mg perhari.
Pengobatan arthritis yang dikonsumsi
oral kesemuanya mempunyai efek samping, sehingga diperlukan control dan
monitoring ketat dari dokter. Jangan sembarangan mengkonsumsi obat, atau
mengobati diri sendiri tanpa petunjuk dokter. Resiko dari mengkonsumsi obat
arthritis yang tidak termonitor sangat besar, terutama dapat merusak
organ-organ lain di dalam tubuh, seperti ginjal, hati dan empedu. Sedapat
mungkin banyak meminum air putih ketika sedang mengkonsumsi obat arthritis dan
berhenti mengkonsumsi sesuai petunjuk dokter.
Bila menambahkan obat alternatif,
konsultasikan pula dengan dokter untuk memastikan bahwa obat yang diterima
tidak mempunyai efek yang bertentangan dengan obat yang diperoleh dari dokter.
Satu-satunya cara untuk dapat
mengkontrol arthritis, adalah mengubah gaya hidup menjadi gaya hidup sehat,
yang aktif, mempunyai pola makan sehat dan olahraga teratur, pengetahuan yang
cukup, konsultasi dokter dan membuat grup support.
8.
MYASTHENIA
GRAVIS
Myasthenia gravis adalah suatu penyakit
autoimun yang ditandai oleh kelemahan dari otot wajah, orofaringeal,
ekstraokuler dan otot anggota gerak. Kelemahan dari otot-otot wajah dapat
menyebabkan kesukaran untuk tersenyum, mengunyah dan berbicara. Tanda utama
dari penyakit ini adalah peningkatan kelemahan otot pada aktivitas otot yang
berulang. Merupakan penyakit yang jarang dengan insiden 1 per 100.000, wanita
dua kali lebih banyak dibanding pria.
Penyebabnya
diduga karena serangan autoimun terhadap reseptor asetilkolin pada
neuro-muscular junction. Antibodi terhadap reseptor asetilkolin atau
receptor-decamethonium complex (anti-AchR) ditemukan dalam serum dari
tigaperempat penderita Myasthenia gravis (MG).
Abnormalitas thymus juga ditemukan pada sebagian besar penderita MG, sekitar
75% dengan hiperplasia folikel kelenjar dan 10-15% dengan tumor thymic jenis
lymphoblastic atau epithelial. Tindakan thymectomy menyebabkan remisi dan
perbaikan pada masing-masing 35% dan 50% penderita sehingga diduga MG
berhubungan dengan serangan autoimun terhadap antigen pada thymus dan motor
endplate atau abnormal clone dari sel-sel imun di thymus.
Diagnosis:
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis dan prosedur
konfirmasi diagnostik, dengan pemberian antikolinesterase kerja pendek
(endrophonium) 210 mg intravena maka kekuatan otot secara dramatis dapat
dipulihkan. Tes lain yang lebih canggih dengan elektromyografi serabut tunggal
dan pemeriksaan rangsangan saraf berulang.
Gejala:
Myasthenia
gravis dapat mempengaruhi otot skeletal/rangka pada tubuh pasien myasthenia
gravis. Tanda yang sangat jelas adalah kelemahan yang berarti ketika sedang
beraktivitas dan membaik ketika sedang beristirahat. Gejala ini umumnya
memburuk setelah latihan atau pada sore hari. Tidak semua gejala dialami semua
pasien myasthenia gravis pada waktu yang sama.
Gejala
Myasthenia gravis yang mungkin dialami pasien bisa adalah
1. Ocular Myasthenia Gravis
Gejala ini
ditandai dengan penurunan kelopak mata (ptosis) dan penglihatan ganda atau
diplopia
2. Generalised Myasthenia Gravis
Sebagai
tambahan dari occular myasthenia gravis, pasien myasthenia gravis
juga mungkin mengalami kelemahan dalam mengontrol ekspresi muka, menelan,
mengunyah dan berbicara. Otot-otot anggota badan dan pernafasan kemungkinan
juga mengalami kelemahan.
Awal mula
gejala yang dialami pasien myasthenia gravis kemungkinan bertambah secara sedikit
demi sedikit namun juga pasien myasthenia gravis dapat juga mengalami penurunan
kemampuan bernafas dalam waktu yang cepat. Hal ini disebut dengan "Krisis
Myasthenia" dan bila hal ini terjadi, pasien harus segera pergi ke
rumah sakit untuk mendapatkan penanganan secepatnya.
Pengobatan :
Hari ini,
MG dapat dikontrol. Ada beberapa terapi yang tersedia untuk membantu mengurangi
kelemahan otot. Kebanyakan orang dengan MG memiliki hasil yang baik dari
perawatan. Pada beberapa orang MG, seperti banyak penyakit autoimun lainnya,
mungkin pergi ke remisi (jangka waktu tanpa gejala) dan kelemahan otot mungkin
hilang sepenuhnya.
Pengampunan
atau perbaikan dapat terjadi tanpa perawatan di beberapa kasus. Menurut
Asosiasi Muscular Dystrophy, hingga 20 persen orang dengan MG mungkin memiliki
pengampunan sempurna gejala tanpa pengobatan, dan lain 20 persen dapat
meningkatkan tanpa pengobatan. Perbaikan ini spontan lebih cenderung terjadi
selama tahap awal MG.
Perawatan
mg dapat mencakup:
- Obat-obatan.
Obat-obatan yang digunakan termasuk inhibitor cholinesteraseseperti neostigmine dan pyridostigmine.
Obat ini membantu meningkatkan saraf sinyal untuk otot dan meningkatkan
kekuatan otot. Immunosuppressive obat-obatan
seperti prednisone, cyclosporine, dan azatioprin juga
dapat digunakan untuk menekan produksi antibodi yang abnormal. Mereka
harus digunakan dengan hati-hati ikutan medis karena mereka dapat
dikaitkan dengan efek samping yang besar.
- Thymectomy, operasi pengangkatan dari
kelenjar Timus (yang abnormal di kebanyakan orang dengan MG). Operasi ini
dilakukan untuk orang-orang dengan MG yang memiliki tumor, serta individu
tanpa tumor. Ini meningkatkan gejala di lebih dari setengah dari
orang-orang tanpa tumor. Itu dapat menyembuhkan beberapa orang dengan MG,
mungkin dengan kembali keseimbangan sistem kekebalan tubuh.
Terapi
lain kadang-kadang digunakan untuk mengobati MG selama periode terutama sulit
kelemahan meliputi:
- Plasmapheresis atau plasma pertukaran.
Ini adalah prosedur yang menghapus abnormal antibodi dari darah.
- Globulin
kebal intravena dosis tinggi. Perawatan ini sementara mengganggu kemampuan
sistem imun untuk kerusakan saraf otot persimpangan. Pilihan pengobatan
untuk orang dengan MG tergantung pada tingkat keparahan kelemahan,
otot-otot yang terpengaruh, dan orang usia dan masalah kesehatan lainnya.
Dalam
beberapa kasus, MG dapat menyebabkan kelemahan yang parah mengakibatkan
kegagalan pernapasan akut. Tetapi kebanyakan orang dapat berharap untuk
memimpin hidup normal atau hampir normal.
9.
SYSTEMIC SCLEROSIS
Merupakan penyakit yang jarang, dikenal pula dengan nama lain scleroderma,
yang ditandai dengan fibrosis kulit, pembuluh darah dan organ viscera yang
progresif. Prevalensi penyakit ini 1 : 10.000 dengan rasio wanita : pria
3 :1 pada kelompok umur 15 - 44 tahun. target utama dari penyakit ini adalah
sel endotel, suatu faktor serum yang toksik terhadap endotel telah ditemukan
pada beberapa penderita.
Penyebab
scleroderma masih belum diketahui. Beberapa kasus scleroderma dihubung-hubungkan
dengan adanya reaksi bahan kimia. Unsur-unsur lain yang bisa menyebabkan
terjadinya scleroderma adalah keturunan, sel-sel rahim, dan virus.
Gambaran klinisnya bervariasi dan morbiditas penyakit ini tergantung pada
luasnya permukaan kulit dan organ dalam yang terkena. Sering ditemukan fenomena
Raynauld khususnya pada pasien dengan sindroma CREST (calcinosis pada kulit,
fenomena Raynauld, dismotilitas esofagus, sclerodactyly dan telangiectasis).
Penderita dengan penyakit yang difus akan menampakkan gejala arthritis
pembengkakan tangan dan jari serta penebalan kulit yang dimulai pada jari dan
tangan dan bisa meluas ke muka dan leher. Pada kelainan yang berat
maka permukaan kulit yang terkena lebih luas dan terjadi deformitas pada tangan
dan jari. Fenomena Raynauld dan kerusakan organ dalam yang terkena
menandakan adanya fibrosis arteriole dan arteri-arteri kecil, sehingga bila
terjadi respons vasokonstriksi karena berbagai rangsangan seperti udara yang
dingin akan menyebabkan obliterasi pembuluh darah yang komplit.
Pada sebagian besar penderita ditemukan ANA (anti-nuclear antibody) namun
anti-ANA tidak ditemukan, hampir setengah penderita mempunyai serum
cryoglobulin. Antibodi terhadap centromere ditemukan pada penderita dengan sindroma
CREST namun tidak ditemukan pada kelainan yang difus.
Scleroderma
tidak digolongkan sebagai penyakit menular. Ini berarti anda tidak akan
tertular ketika berjabatan tangan, berpelukan, berciuman, berhubungan badan,
kontak dengan darah atau cairan-cairan tubuh, memakai peralatan makan yang
sama, atau lewat udara ketika batuk atau bersin. Dan penyakit ini sama sekali
tidak menyebabkan kanker.
Ada dua
jenis utama scleroderma, localized dan systemic.
Scleroderma
systemic dapat mempengaruhi seluruh bagian tubuh (kulit, pembuluh darah, dan
organ bagian dalam). Jenis ini juga sering disebut sebagai "systemic
sclerosis" dan istilah-istilah lain seperti diffuse,limited, CREST, dan overlap.
Jenis
localized itu morphea dan linear. Jenis ini hanya mempengaruhi
kulit (dan kadang-kadang juga jaringan pokok) tetapi tidak mempengaruhi
organ-organ bagian dalam, atau mengurangi harapan hidup seseorang.
Penyakit
scleroderma pada anak-anak (localized ataupun systemic) biasanya disebut
sebagai Childhood Scleroderma atau Juvenile Scleroderma.
Sampai
saat ini, belum ada pengobatan atau perawatan yang telah terbukti menyembuhkan
scleroderma. Bagaimanapun juga, ada beberapa terapi yang ampuh untuk menangani
gejala-gejala scleroderma. Kebanyakan dari gejala yang terdaftar dalam situs
ini adalah systemic scleroderma.
10.
RHEUMATOID
ARTHRITIS
Radang
sendi atau artritis
reumatoid (bahasa Inggris: Rheumatoid Arthritis, RA) merupakan penyakit autoimun (penyakit
yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri)
yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini
menyerang persendian, biasanya
mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan
struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.
RA dapat mengakibatkan nyeri,
kemerahan, bengkak dan panas di sekitar sendi. Berdasarkan studi, RA lebih
banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan rasio kejadian 3 : 1.
Umumnya penyakit ini menyerang pada
sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada
penderita stadium lanjut akan membuat si penderita tidak dapat melakukan
aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya menurun. Gejala yang lain yaitu
berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah dan kurang darah.
Namun kadang kala si penderita tidak merasakan gejalanya. Diperkirakan kasus
Rheumatoid Arthritis diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1%
sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk Indonesia.
Gejala
RA umumnya ditandai dengan adanya
beberapa gejala yang berlangsung selama minimal 6 minggu, yaitu :
- Kekakuan pada dan sekitar sendi
yang berlangsung sekitar 30-60 menit di pagi hari
- Bengkak pada 3 atau lebih sendi
pada saat yang bersamaan
- Bengkak dan nyeri umumnya
terjadi pada sendi-sendi tangan
- Bengkak dan nyeri umumnya
terjadi dengan pola yang simetris (nyeri pada sendi yang sama di kedua
sisi tubuh) dan umumnya menyerang sendi pergelangan tangan
Pada tahap yang lebih lanjut, RA
dapat dikarakterisasi juga dengan adanya nodul-nodul rheumatoid, konsentrasi
rheumatoid factor (RF) yang abnormal dan perubahan radiografi yang meliputi
erosi tulang.
Pengobatan:
1. Pendidikan pada pasien mengenai
penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan
baik dan terjamin ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang
lama.
2. OAINS diberikan sejak dini untuk
mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai. OAINS yang dapat
diberikan:
a. Aspirin
Pasien dibawah 50 tahun dapat mulai
dengan dosis 3-4 x 1 g/hari, kemudian dinaikkan 0,3-0,6 g per minggu sampai
terjadi perbaikan atau gejala toksik. Dosis terapi 20-30 mg/dl.
b. Ibuprofen, naproksen, piroksikam,
diklofenak, dan sebagainya.
3. DMARD digunakan untuk melindungi
rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis reumatoid. Mula
khasiatnya baru terlihat setelah 3-12 bulan kemudian. Setelah 2-5 tahun, maka
efektivitasnya dalam menekan proses reumatoid akan berkurang. Keputusan penggunaannya
bergantung pada pertimbangan risiko manfaat oleh dokter. Umumnya segera
diberikan setelah diagnosis artritis reumatoid ditegakkan, atau bila respon
OAINS tidak baik, meski masih dalam status tersangka.
Jenis-jenis yang digunakan adalah:
a. Klorokuin, paling banyak
digunakan karena harganya terjangkau, namun efektivitasnya lebih rendah
dibandingkan dengan yang lain. Dosis anjuran klorokuin fosfat 250 mg/hari
hidrosiklorokuin 400 mg/hari. Efek samping bergantung pada dosis harian, berupa
penurunan ketajaman penglihatan, dermatitis makulopapular, nausea, diare, dan
anemia hemolitik.
b. Sulfasalazin dalam bentuk tablet
bersalut enteric digunakan dalam dosis 1 x 500 mg/hari, ditingkatkan 500 mg per
minggu, sampai mencapai dosis 4 x 500 mg. Setelah remisi tercapai, dosis dapat
diturunkan hingga 1 g/hari untuk dipakai dalam jangka panjang sampai tercapai
remisi sempurna. Jika dalam waktu 3 bulan tidak terlihat khasiatnya, obat ini
dihentikan dan diganti dengan yang lain, atau dikombinasi. Efek sampingnya nausea,
muntah, dan dyspepsia.
c. D-penisilamin, kurang disukai
karena bekerja sangat lambat. Digunakan dalam dosis 250-300 mg/hari, kemudian
dosis ditingkatkan setiap 2-4 minggu sebesar 250-300 mg/hari untuk mencapai
dosis total 4x 250-300 mg/hari. Efek samping antara lain ruam kulit urtikaria
atau mobiliformis, stomatitis, dan pemfigus.
d. Garam emas adalah gold standard
bagi DMARD. Khasiatnya tidak diragukan lagi meski sering timbul efek samping.
Auro sodium tiomalat (AST) diberikan intramuskular, dimulai dengan dosis
percobaan pertama sebesar 10 mg, seminggu kemudian disusul dosis kedua sebesar
20 mg. Seminggu kemudian diberikan dosis penuh 50 mg/minggu selama 20 minggu.
Dapat dilanjutkan dengan dosis tambahan sebesar 50 mg tiap 2 minggu sampai 3
bulan. Jika diperlukan, dapat diberikan dosis 50 mg setiap 3 minggu sampai
keadaan remisi tercapai. Efek samping berupa pruritis, stomatitis, proteinuria,
trombositopenia, dan aplasia sumsum tulang. Jenis yang lain adalah auranofin
yang diberikan dalam dosis 2 x 3 mg. Efek samping lebih jarang dijumpai, pada
awal sering ditemukan diare yang dapat diatasi dengan penurunan dosis.
e. Obat imunosupresif atau
imunoregulator.
Metotreksat sangat mudah digunakan
dan waktu mula kerjanya relatif pendek dibandingkan dengan yang lain. Dosis
dimulai 5-7,5 mg setiap minggu. Bila dalam 4 bulan tidak menunjukkan perbaikan,
dosis harus ditingkatkan. Dosis jarang melebihi 20 mg/minggu. Efek samping
jarang ditemukan. Penggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masih dalam
penelitian.
f. Kortikosteroid hanya dipakai
untuk pengobatan artritis reumatoid dengan komplikasi berat dan mengancam jiwa,
seperti vaskulitis, karena obat ini memiliki efek samping yang sangat berat.
Dalam dosis rendah (seperti prednison 5-7,5 mg satu kali sehari) sangat
bermanfaat sebagai bridging therapy dalam mengatasi sinovitis sebelum DMARD
mulai bekerja, yang kemudian dihentikan secara bertahap. Dapat diberikan
suntikan kortikosteroid intraartikular jika terdapat peradangan yang berat.
Sebelumnya, infeksi harus disingkirkan terlebih dahulu.
Riwayat Penyakit alamiah
Riwayat penyakit alamiah AR sangat
bervariasi. Pada umumnya 25% pasien akan mengalami manifestasi penyakit yang
bersifat monosiklik (hanya mengalami satu episode AR dan selanjutnya akan
mengalami remisi sempurna). Pada pihak lain sebagian besar pasien akan
menderita penyakit ini sepanjang hidupnya dengan hanya diselingi oleh beberapa
masa remisi yang singkat (jenis polisiklik). Sebagian kecil lainnya akan
menderita AR yang progresif yang disertai dengan penurunan kapasitas fungsional
yang menetap pada setiap eksaserbasi.
Penelitian jangka panjang
menunjukkan bahwa dengan pengobatan yang digunakan saat ini, sebagian besar
pasien AR umumnya akan dapat mencapai remisi dan dapat mempertahankannya dengan
baik pada 5 atau 10 tahun pertamanya. Setelah kurun waktu tersebut, umumnya
pasien akan mulai merasakan bahwa remisi mulai sukar dipertahankan dengan
pengobatan yang biasa digunakan selama itu. Hal ini mungkin disebabkan karena
pasien sukar mempertahankan ketaatannya untuk terus berobat dalam jangka waktu
yang lama, timbulnya efek samping jangka panjang kortikosteroid. Khasiat DMARD
yang menurun dengan berjalannya waktu atau karena timbulnya penyakit lain yang
merupakan komplikasi AR atau pengobatannya. Hal ini masih merupakan persoalan
yang banyak diteliti saat ini, karena saat ini belum berhasil dijumpai obat
yang bersifat sebagai disease controlling antirheumatic therapy (DC-ART).
Rehabilitasi pasien AR
Rehabilitasi merupakan tindakan
untuk mengembalikan tingkat kemampuan pasien AR dengan cara:
· Mengurangi rasa nyeri
· Mencegah terjadinya kekakuan dan
keterbatasan gerak sendi
· Mencegah terjadinya atrofi dan
kelemahan otot
· Mencegah terjadinya deformitas
· Meningkatkan rasa nyaman dan
kepercayaan diri
· Mempertahankan kemandirian
sehingga tidak bergantung kepada orang lain.
Rehabilitasi dilaksanakan dengan
berbagai cara antara lain dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat, latihan
serta dengan menggunakan modalitas terapi fisis seperti pemanasan, pendinginan,
peningkatan ambang rasa nyeri dengan arus listrik. Manfaat terapi fisis dalam
pengobatan AR telah ternyata terbukti dan saat ini merupakan salah satu bagian
yang tidak terpisahkan dalam penatalaksanaan AR.
Pembedahan
Jika berbagai cara pengobatan telah
dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat alasan yang cukup kuat, dapat
dilakukan pengobatan pembedahan. Jenis pengobatan ini pada pasien AR umumnya
bersifat ortopedik, misalnya sinovektoni, artrodesis, total hip replacement,
memperbaiki deviasi ulnar, dan sebagainya.
beberapa gangguan autoimun yang
sering menyerang anak-anak:
Juvenile Rheumatoid Arthritis: Juvenile rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang menyerang anak-anak pada kelompok usia enam bulan sampai enam belas tahun. Kondisi ini ditandai dengan gejala, seperti nyeri sendi, pembengkakan, kemerahan dan kekakuan sendi. Kondisi ini diklasifikasikan menjadi 3 yaitu Juvenile Rheumatoid Arthritis sistemik, pauciarticular dan polyarticular. Rheumatoid Juvenile arthritis pauciarticular hanya menyerang tidak lebih dari empat sendi.
Demam rematik: Demam rematik adalah penyakit dimana jaringan ikat tubuh
meradang. Hal ini diyakini karena keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan
infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus yang memicu demam rematik
pada anak-anak. Anak mungkin mengalami gejala-gejala demam rematik sekitar 4-5
minggu setelah infeksi bakteri..
Penyakit Celiac: Penyakit ini adalah penyakit autoimun yang menyerang anak-anak. Penyakit ini disebabkan karena konsumsi gluten yang memicu respon autoimun pada anak-anak. Penyakit celiac ditandai dengan adanya peradangan pada lapisan usus kecil. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan usus untuk menyerap nutrisi, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan mengakibatkan kekurangan gizi.
Lupus: Lupus adalah penyakit autoimun yang bukan hanya menyerang anak-anak saja, tetapi pada bayi yang baru lahir. Pada bayi baru lahir, kondisi ini secara medis disebut sebagai lupus neonatal. Lupus eritematosus sistematik adalah bentuk paling umum dari kondisi ini yang dapat menyerang berbagai organ-organ vital, sendi dan menyebabkan peradangan di berbagai bagian tubuh. Penyebab pasti dari penyakit ini tidak diketahui, namun diyakini bahwa faktor genetik atau faktor lingkungan mempunyai peran.
Penyakit tiroid autoimun: penyakit Graves dan tiroiditis Hashimoto, keduanya merupakan penyakit autoimun lokal, di mana kelenjar tiroid menjadi target autoantibodi, hal ini mempengaruhi sekresi hormon tiroid. Hormon tiroid memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan, penyakit tiroid autoimun dapat berakibat serius pada kesehatan anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar